Strategi Water Management Lahan Gambut untuk Produktivitas
Pengelolaan air adalah penentu utama “sehat atau tidaknya” lahan gambut. Ketika tata air tidak terkontrol, gambut mudah mengering, lebih rentan terbakar, dan kehilangan fungsi ekologisnya. Di halaman rujukan Bandung Training disebutkan bahwa degradasi lahan gambut di Indonesia dipicu salah kelola air dan berdampak pada kekeringan, kebakaran, serta emisi karbon tinggi. Karena itu, water management bukan sekadar urusan kanal, tetapi sebuah sistem yang mengatur muka air, drainase, dan pemantauan agar lahan tetap produktif sekaligus aman.
Mengapa tata air menentukan nasib ekosistem gambut
Secara ilmiah, restorasi gambut yang terdegradasi umumnya dimulai dari upaya membasahi kembali area yang mengering dengan menaikkan muka air tanah. Pendekatan seperti sekat kanal banyak digunakan untuk mengurangi laju pengeringan, menekan risiko kebakaran, dan mendukung pemulihan vegetasi. CIFOR juga menekankan bahwa sistem drainase yang tidak tepat menurunkan muka air tanah sehingga gambut menjadi kering dan rentan terbakar, sementara rewetting melalui canal blocking dapat menaikkan kembali muka air tanah.
Di Indonesia, arah kebijakan pengelolaan gambut juga sering memakai target muka air tanah agar tidak turun terlalu dalam. Dalam dokumen rencana kerja pengelolaan ekosistem gambut, disebutkan upaya mempertahankan tinggi muka air tanah gambut tidak lebih dari sekitar 40 cm di bawah permukaan. Angka ini membantu tim lapangan punya patokan sederhana saat menyusun SOP pemantauan.

Langkah praktis water management yang bisa diterapkan
Praktik yang paling sering dilakukan dimulai dari pemetaan topografi dan hidrologi. Tujuannya untuk memahami aliran air, jaringan kanal, titik rawan kering, serta area yang perlu intervensi. Hal ini selaras dengan materi di halaman rujukan yang menekankan konsep hidrologi gambut, peran kanal dan sekat kanal, serta teknik pemetaan topografi dan hidrologi.
Berikutnya adalah pengaturan sistem drainase dan pengendalian kanal. Sekat kanal, embung, dan pengaturan pintu air dapat membantu menjaga gambut tetap basah pada musim kering tanpa membuat lahan terlalu tergenang pada musim hujan. Pedoman regional seperti ASEAN Guidelines on Peatland Fire Management juga menekankan pentingnya memonitor dan mengatur muka air tanah sepanjang tahun, serta menyebut opsi cascade canal blocking untuk membantu menjaga kondisi air lebih stabil.
Agar lebih presisi, banyak pengelola mulai memakai pemantauan kelembapan tanah dan muka air tanah dengan sensor atau sumur pantau. Hal ini juga disebutkan di halaman rujukan sebagai bagian dari penerapan pemantauan digital. Data pemantauan dimanfaatkan untuk penentuan kebutuhan intervensi, misalnya penutupan aliran pada kanal spesifik saat muka air mendekati ambang disepakati internal.
Monitoring dan tata kelola supaya konsisten
Water management yang berhasil biasanya ditopang dua hal. Pertama, monitoring yang rutin dan mudah dibaca oleh tim operasional. Kedua, tata kelola yang jelas, siapa yang memutuskan pengaturan kanal, siapa yang mengecek lapangan, dan bagaimana pelaporan dilakukan. Dalam praktik restorasi, studi dan panduan menekankan rewetting melalui kanal blocking serta pemantauan muka air tanah untuk evaluasi dampak.
Bandung Training sedang mengadakan pelatihan Water Management Lahan Gambut yang akan diadakan di Bandung. Informasi lebih lanjut hubungi nomor WA : 085166437761 (Saka) atau 082133272164 (Olisia).